Fiksi
1. Unsur unsur intrinsik fiksi
Dalam cerita fiksi pada dasarnya tidak hanya menyajikan bentuk cerita saja. Melainkan dalam komponen cerita juga terdapat berbagai. Unsur yang membangun adanya cerita fiksi. So, di bawah ini adalah serangkaian unsur yang paling umum di dalam cerita fiksi.
1. Tema Siapa sih yang tidak kenal dengan tema? Tema merupakan gagasan atau ide utama dari sebuah cerita. Entah mau seberapa panjang cerita tersebut, pasti memiliki tema. Nah! Biasanya, cerita yang panjang justru memiliki lebih dari sebuah tema.
2. Alur Selain tema, dalam sebuah cerita ada juga yang disebut alur. Alur menggambarkan keseluruhan dari sebuah cerita. Bahkan setiap cerita memiliki alur yang berbeda. Entah itu mau akur maju, mundur atau campuran.
3. Tokoh Dalam sebuah cerita sudah dipastikan ada tokohnya. Tokoh juga biasa disebut karakter. Nah! Dalam suatu cerita, tokoh tidak hanya manusia saja. Jika ceritanya menceritakan kisah binatang, maka tokohnya bisa berupa binatang.
4. Latar Penikmat sebuah cerita pasti tahu kalau di sebuah cerita tidak hanya terdiri dari 3 unsur di atas saja. Melainkan ada juga latar. Latar mengisahkan suasana, waktu, dan tempat yang berbeda dalam sebuah cerita.
5. Konflik Dalam sebuah cerita sudah pasti terdapat adanya konflik. Konflik dalam cerita bertujuan untuk membangkitkan emosi para pembacanya. Namun bukan hanya itu Sajam konflik sebuah masalah juga bertahap. Mulai dari yang paling awal sampai tahap penyelesaian konflik.
6. Sudut Pandang Kalau sudut pandang adalah terkait Point of View si penulisnya. Sudut pandang dalam sebuah cerita berbeda dengan cerita yang lainnya. Bisa dikatakan, sebuah cerita memakai sudut pandang orang pertama jika mengisahkan tentang ‘saya’. Jika cerita mengisahkan sudut pandang orang kedua, maka mengisahkan tentang ‘dia’. Namun, ada pula sudut pandang orang ketiga, mengisahkan kehidupan seseorang, di mana penulis seolah hanya berperan sebagai pengamat saja.
7. Percakapan Perlu kamu ketahui, dalam sebuah cerita pastinya terdapat dialog. Nah! Dialog dalam cerita fiksi berbeda dengan dialog yang terjadi di dunia nyata. Bisa dibilang dialog cerita fiksi cenderung menampilkan poin-poin pentingnya saja.
2. Fakta cerita
Fakta cerita merupakan sarana untuk membangun rangkaian peristiwa cerita. Di dalamnya terbangun alur, tokoh, dan latar. Ikatan antara ketiga unsur itu haruslah sangat erat sehingga cerita benar-benar utuh. Acuan untuk menganalisis kekuatan fakta cerita adalah hubungan sebab-akibat antara plot, tokoh dan latar. Dalam cerita pendek siswa, pengolahan fakta cerita terpusat kepada persoalantema yang diangkat menjadi cerita pendek.
Dalam beberapa cerita, fakta cerita bukanlah menjadi fakta fiksi, tetapi benar-benar fakta yang terjadi. Hal ini terbukti dari beberapa cerpen siswa yang mencantumkan latar nama sekolah, nama tempat serta waktu cerita yang detil tanggal dan hari. Padahal dalam cerita pendek, seperti juga genre fiksi yang lain seperti novel dan drama, fakta cerita bukanlah realitas yang benar-benar terjadi. Cerita pendek adalah fiksi yang bersumber dari realitas, tetapi bukan menceritakan realitas.
3. Sarana cerita dan drama
Selain fakta cerita, sebuah prosa juga dibangun berdasarkan sarana cerita. Stanton (2012:46) mengatakan sarana cerita merupakan teknik yang digunakan oleh pengarang untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola yang bermakna.
Tujuan penggunaan sarana cerita adalah untuk memungkinkan pembaca melihat fakta sebagaimana yang dilihat pengarang, menafsirkan makna fakta sebagaimana yang ditafsirkan pengarang, dan merasakan pengalaman seperti yang dirasakan pengarang.
a. Ironi Ironi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani eiron yang berarti menyembunyikan. Ironi = sesuatu yang berlawanan dengan apa yang dimaksud dan diharapkan (Stanton, 1965:34). Makna fungsi ironi adalah menyembunyikan atau perbedaan antara yang diekspresikan dengan yang telah terjadi dalam arti yang sebenarnya. Ironi dapat menimbulkan daya pikat dan humor,memperkuat alur, menjelaskan sikap penulis, bahkan secara tidak langsung juga menyatakan suatu tema.Macam-macam ironi: 1) Ironi verbal merupakan kata kiasan yang bertentangan dengan apa yang diucapkan berdasarkan kejadian yang terjadi. 2) Ironi Dramatis merupakan suatu kejadian yang bertentangan antara apa yang si tokoh katakan dengan apa yang diketahui oleh pembaca tentang hal tersebut menjadi sebuah kenyataan. 3) Ironi Situasional merupakan ironi yang terjadi berupa pertentangan dengan kenyataan yang sesungguhnya. b. Humor Humor merupakan cara melahirkan suatu pikiran, baik dengan kata-kata maupun dengan jalan lain yang melukiskan suatu ajakan untuk menimbulkan simpati dan hiburan (Ensiklopedi Umum, 1973:529). Dalam sastra, Humor adalah sarana cerita yang dapat berwujud kata maupun frasa dalam bentuk lahir dan sikap tokoh atau suasana cerita yang lucu dan menimbulkan tawa.
Fungsi humor antara lain: 1) Mengendurkan ketegangan pikiran pembaca ketika cerita sarat dengan konflik-konflik yang mencekam. 2) Sebagai media penyalur konflik sosial 3) Sebagai penyegar cerita.
Teknik penyampaian humor dalam cerita antara lain: 1) Mengemukakan dan meragakan adegan yang lucu. 2) Melalui situasi tertentu, gerak-gerik dan kondisi tokoh.
c. Gaya (bahasa) dan suasana Stile adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang dikemukakan (Abrams, 1981:190-191). Stile pada hakikatnya merupakan teknik pemilihanungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan (Nurgiyantoro, 2002:277).
Nada dalam pengertian yang luas dapat diartikan sebagai pendirian atau sikap yang diambil pengarang terhadap pembaca dan terhadap sebagian masalah yang dikemukakan (Leech dan Short, 1981:280).Nada merupakan ekspresi sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan dan terhadap pembaca (Kenny, 1966:69).
d. Moral dalam fiksi Secara umum moral menyaran pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima untuk mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; ahklak, budi pekerti, susila (KBBI: 1994). Pesan Religius dan Kritik Sosial Pesan moral yang berwujud moral religius, termasukdidalamnya yang bersifat keagamaan, dan kritk sosial banyak ditemukan dalam karya fiksi atau dalam genre sastra yang lain. Kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra adalah setua keberadaansastra itu sendiri. Bentuk Penyampaian Pesan Moral Secara umum dapat dikatakan bahwa bentuk penyampaian moral dalam karya fiksi mungkin bersifat langsung, atau sebaliknya tak langsung. 1) Bentuk penyampaian moral yang bersifat langsung identik dengan cara pelukisan watak tokoh yang bersifat uraian, atau penjelasan, expositoy. 2) Bentuk penyampaian pesan moral yang bersifat tidak langsung, pesan itu hanya tersirat dalam cerita, berpadu secara koherensif dengan unsur-unsur ceritayang lain.
Selain fakta cerita, sebuah prosa juga dibangun berdasarkan sarana cerita. Stanton (2012:46) mengatakan sarana cerita merupakan teknik yang digunakan oleh pengarang untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola yang bermakna.
Tujuan penggunaan sarana cerita adalah untuk memungkinkan pembaca melihat fakta sebagaimana yang dilihat pengarang, menafsirkan makna fakta sebagaimana yang ditafsirkan pengarang, dan merasakan pengalaman seperti yang dirasakan pengarang.
a. Ironi
Ironi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani eiron yang berarti menyembunyikan. Ironi = sesuatu yang berlawanan dengan apa yang dimaksud dan diharapkan (Stanton, 1965:34). Makna fungsi ironi adalah menyembunyikan atau perbedaan antara yang diekspresikan dengan yang telah terjadi dalam arti yang sebenarnya. Ironi dapat menimbulkan daya pikat dan humor,
memperkuat alur, menjelaskan sikap penulis, bahkan secara tidak langsung juga menyatakan suatu tema.
Macam-macam ironi:
1) Ironi verbal merupakan kata kiasan yang bertentangan dengan apa yang diucapkan berdasarkan kejadian yang terjadi.
2) Ironi Dramatis merupakan suatu kejadian yang bertentangan antara apa yang si tokoh katakan dengan apa yang diketahui oleh pembaca tentang hal tersebut menjadi sebuah kenyataan.
3) Ironi Situasional merupakan ironi yang terjadi berupa pertentangan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
b. Humor
Humor merupakan cara melahirkan suatu pikiran, baik dengan kata-kata maupun dengan jalan lain yang melukiskan suatu ajakan untuk menimbulkan simpati dan hiburan (Ensiklopedi Umum, 1973:529). Dalam sastra, Humor adalah sarana cerita yang dapat berwujud kata maupun frasa dalam bentuk lahir dan sikap tokoh atau suasana cerita yang lucu dan menimbulkan tawa.
Fungsi humor antara lain:
1) Mengendurkan ketegangan pikiran pembaca ketika cerita sarat dengan konflik-konflik yang mencekam.
2) Sebagai media penyalur konflik sosial
3) Sebagai penyegar cerita.
Teknik penyampaian humor dalam cerita antara lain:
1) Mengemukakan dan meragakan adegan yang lucu.
2) Melalui situasi tertentu, gerak-gerik dan kondisi tokoh.
c. Gaya (bahasa) dan suasana
Stile adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang dikemukakan (Abrams, 1981:190-191). Stile pada hakikatnya merupakan teknik pemilihan
ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan (Nurgiyantoro, 2002:277).
Nada dalam pengertian yang luas dapat diartikan sebagai pendirian atau sikap yang diambil pengarang terhadap pembaca dan terhadap sebagian masalah yang dikemukakan (Leech dan Short, 1981:280).
Nada merupakan ekspresi sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan dan terhadap pembaca (Kenny, 1966:69).
d. Moral dalam fiksi
Secara umum moral menyaran pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima untuk mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; ahklak, budi pekerti, susila (KBBI: 1994).
Pesan Religius dan Kritik Sosial Pesan moral yang berwujud moral religius, termasuk
didalamnya yang bersifat keagamaan, dan kritk sosial banyak ditemukan dalam karya fiksi atau dalam genre sastra yang lain. Kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra adalah setua keberadaan
sastra itu sendiri. Bentuk Penyampaian Pesan Moral Secara umum dapat dikatakan bahwa bentuk penyampaian moral dalam karya fiksi mungkin bersifat langsung, atau sebaliknya tak langsung.
1) Bentuk penyampaian moral yang bersifat langsung identik dengan cara pelukisan watak tokoh yang bersifat uraian, atau penjelasan, expositoy.
2) Bentuk penyampaian pesan moral yang bersifat tidak langsung, pesan itu hanya tersirat dalam cerita, berpadu secara koherensif dengan unsur-unsur cerita
yang lain.
Daftar pustaka
Ahmad. 2022. Cerita Fiksi: Pengertian, Unsur, Jenis, Struktur dan Contoh. Di akses pada 14 Oktober 2022. Dari https://www.gramedia.com/best-seller/cerita-fiksi/
Yattini. 2014. Fakta Cerita Kelengkapan Unsur Intrinsik Cerpen. Diakses pada 14 Oktober 2022. Dari https://text id.123dok.com/document/4zpv4rxvz-fakta-cerita-kelengkapan-unsur-intrinsik-cerpen.html
Syaiful Rizal, Maulfi. Sarana Cerita. Diakses pada 14 Oktober 2022. Dari http://maulfisr.lecture.ub.ac.id/2013/04/sarana-cerita/
Ahmad. 2022. Cerita Fiksi: Pengertian, Unsur, Jenis, Struktur dan Contoh. Di akses pada 14 Oktober 2022. Dari https://www.gramedia.com/best-seller/cerita-fiksi/
Yattini. 2014. Fakta Cerita Kelengkapan Unsur Intrinsik Cerpen. Diakses pada 14 Oktober 2022. Dari https://text id.123dok.com/document/4zpv4rxvz-fakta-cerita-kelengkapan-unsur-intrinsik-cerpen.html
Syaiful Rizal, Maulfi. Sarana Cerita. Diakses pada 14 Oktober 2022. Dari http://maulfisr.lecture.ub.ac.id/2013/04/sarana-cerita/
Komentar
Posting Komentar